ALLAH MENGUTUS RASUL DAN MENURUNKAN KITAB SUCI
Dalam bab-bab awal, kita telah melihat contoh dan bukti yang membantu
kita merenungkan dan memahami kekuasaan dan kebesaran Allah. Mengapa Allah
menganugerahi kita dengan kemampuan berpikir dan mencari sebab sesuatu? Agar
kita mengenal-Nya. Allah juga menurunkan untuk kita kitab suci untuk
memperkenalkan diri-Nya. Dia menyampaikan apa yang dikehendaki-Nya dalam kitab
suci itu. Allah menugaskan dan mengutus orang-orang yang menjadi contoh untuk
manusia dengan amal perbuatan yang terpuji. Melalui para utusan ini, pesan
sesungguhnya dan wahyu dari Allah menjadi petunjuk untuk umat
manusia.
Sulit mengetahui dengan pasti berapa banyak rasul yang diutus oleh
Allah, meskipun ada hadits yang menyebutkan bahwa, misalnya, ada 313 orang
rasul, sedangkan nabi jumlahnya lebih besar lagi sepanjang sejarah. Kita hanya
tahu nama-nama nabi yang disebutkan di dalam Al Qur’an, wahyu terakhir yang
diturunkan oleh Allah. Allah memberikan pengetahuan untuk kita tentang kehidupan
para nabi agar kita bisa memahami amal perbuatan mereka. Melalui para rasul yang
diutus-Nya, Allah menyampaikan kepada kita jalan hidup yang benar dan bagaimana
bersikap dengan baik di dunia ini. Hanya melalui wahyu Allah itulah, kita bisa
mengetahui bagaimana kita bersikap, dan perbuatan apakah yang lebih baik dan
lebih sesuai dengan nilai-nilai Al Qur'an. Hanya melalui wahyunya itulah kita
bisa mengetahui perbuatan yang diridhai oleh Allah dan diganjar dengan pahala
tak terbatas, maupun perbuatan yang menyebabkan hukuman
dari-Nya.
Di dalam Al Qur'an, Allah memberi tahu kita bahwa sepanjang sejarah Dia
mengutus rasul-rasulnya kepada seluruh umat, dan para rasul itu memberi mereka
peringatan. Para rasul ini mengajak umatnya untuk menyembah Allah, untuk berdoa
kepada-Nya dan melaksanakan perintah-Nya. Dia juga menjelaskan kepada mereka
bahwa jika tidak begitu, mereka akan dihukum. Singkatnya, mereka memperingatkan
orang-orang tak beriman bahwa mereka akan diberi balasan. (Surga dan Neraka
akan dibahas dengan lebih terperinci dalam bagian berikut.)
Wahyu-wahyu Allah sebelum Al Qur'an sudah tidak asli lagi, karena
orang-orang bodoh dan orang-orang yang berperilaku tercela mengubahnya dengan
kata-kata mereka sendiri dan bagian tambahan dari mereka. Oleh sebab itu, kitab
aslinya, wahyu sebenarnya yang mula-mula disampaikan kepada para rasul, sudah
tidak ada lagi saat ini. Akan tetapi, Allah telah menurunkan kepada kita Al
Qur'an, kitab yang mustahil bisa diubah-ubah.
Nabi Muhammad SAW, dan orang-orang Islam yang hidup setelahnya menjaga
Al Qur'an dengan sangat baik. Al Qur'an begitu jelas sehingga semua orang bisa
memahaminya. Ketika kita membaca Al Qur'an, kita bisa segera memahami bahwa ini
adalah perkataan Allah. Al Qur'an, yang sepenuhnya tetap terjaga keasliannya,
berada dalam perlindungan Allah dan merupakan satu-satunya kitab wahyu yang akan
dipertanggungjawabkan oleh manusia pada Hari Pembalasan.
Saat ini, seluruh umat Islam, di mana pun mereka berada, membaca Al
Qur'an yang sama. Tidak ada satu perbedaan pun yang ditemui dalam satu kata atau
hurufnya sekalipun. Al Qur'an yang diwahyukan pada Rasulullah SAW, dan dibukukan
oleh Kalifah Abu Bakar RA dan kemudian dituliskan oleh Kalifah Usman RA yang
hidup 1.400 tahun yang lalu, dan Al Qur'an yang kita baca sekarang adalah sama.
Ada hubungan erat antara semuanya itu. Artinya, mulai semenjak Al Qur'an
diwahyukan pada Nabi Muhammad SAW, Al Qur'an tetap terjaga seluruhnya. Ini
karena Allah melindungi Al Qur'an dari orang-orang jahat yang berniat
mengubahnya atau menambahkan bagian-bagian tertentu ke dalamnya. Dalam satu
ayat, Allah memberi tahu kita bahwa Allah secara langsung menjaga Al
Qur'an.
“Sesungguhnya kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami
benar-benar memeliharanya” (QS Al-Hijr: 9)
Kata ”Kami” dalam ayat ini berarti Allah sendiri. Tidak ada Tuhan selain
Allah, dan Allah tidak punya sekutu. Dialah Allah Yang Maha Perkasa, Pencipta
segalanya dan Zat Yang meliputi segala sesuatu dalam
pengetahuan-Nya.
Dalam beberapa bagian Al Qur'an, Allah menyebut diri-Nya dengan kata
”Aku”, dan dalam beberapa bagian lain dengan kata ”Kami”. Dalam bahasa Arab,
yaitu bahasa Al Qur'an, kata ”Kami” juga digunakan untuk menyebutkan satu orang
dengan tujuan menambahkan kesan berkuasa dan rasa hormat pendengarnya. Dalam
Bahasa Indonesia, kita pun kadang-kadang menyebutkan ”kami” meskipun yang kita
maksud adalah ”saya” untuk lebih terkesan sopan. Dalam bagian-bagian berikut
dalam buku ini, kalian akan melihat contoh ayat-ayat (dari Al Qur'an) dan surat
(bab-bab Al Qur'an). Semuanya adalah kata-kata yang paling benar karena
merupakan kata-kata Allah, Yang mengetahui diri kita lebih baik, bahkan
dibandingkan diri kita sendiri.
Dalam Al Qur'an, Allah menginginkan agar kita belajar dari kehidupan
para nabi. Salah satu ayat itu berbunyi:
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi
orang-orang yang mempunyai akal….(QS Yusuf:111)
Orang yang dimaksud Allah dalam ayat ini adalah orang yang mengetahui
bahwa Al Qur'an adalah perkataan Allah, sehingga mereka berpikir, menggunakan
akalnya, dan berusaha keras untuk mempelajari Al Qur'an dan hidup menurut
petunjuknya.
Jika Allah mengutus rasul kepada suatu umat, maka umat itu bertanggung
jawab untuk melaksanakan perintah-Nya. Setelah menerima wahyu Allah, umat
tersebut tidak bisa lagi memberi alasan pada Hari Pembalasan. Ini karena para
rasul Allah telah menyampaikan kepada umat mereka pengetahuan tentang adanya
Allah dan apa yang dikehendaki oleh Allah dari mereka. Jika seseorang telah
mendengarkan petunjuk ini, dia pun bertanggung jawab untuk melaksanakannya. Hal
ini disebutkan di dalam Al Qur'an sebagai berikut:
(Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi
peringatan supaya tidak ada lagi alasan bagi manusia sesudah diutusnya
rasul-rasul itu. Dan Allah adalah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (QS
An-Nisaa’:165)
Allah telah menciptakan banyak bangsa di dunia ini. Beberapa di antara
bangsa-bangsa, atau umat ini, menolak apa yang disampaikan oleh para rasul
kepada mereka dan bahkan mengingkari bahwa mereka itu adalah para rasul. Karena
umatnya tidak mendengarkan perkataan para rasul itu, dan tidak menjalankan
perintah Allah, mereka pun dihukum. Melalui rasul-Nya, Allah juga memperingatkan
orang-orang yang membangkang dengan kehidupan yang sulit di dunia. Meskipun
demikian, mereka terus saja menentang para rasul dan memfitnah para rasul itu.
Bahkan, mereka begitu kejam, dan pernah pula membunuh para rasul itu. Oleh sebab
ini, Allah memberi mereka hukuman yang layak mereka terima, dan di waktu
berikutnya, umat yang baru menggantikan mereka. Dalam Al Qur'an, keadaan umat
seperti ini diceritakan sebagai berikut:
Apakah mereka tidak memperhatikan betapa banyaknya generasi-generasi
yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah kami
kuatkan kedudukan mereka di muka bumi? Kami curahkan hujan yang lebat atas
mereka dan kami jadikan sungai-sungai mengalir dibawah mereka. Kemudian kami
binasakan mereka karena dosa mereka sendiri dan kami ciptakan setelah mereka
generasi yang lain. (QS Al-An’am:6)
Dalam bab-bab berikutnya, kita akan membahas contoh-contoh teladan dari
para rasul yang berjuang melawan umat yang membangkang.
Manusia dan Nabi Pertama: Adam
Tentu kalian masih ingat, sewaktu kita berbicara tentang penciptaan
manusia, kita menyebutkan bahwa manusia pertama di bumi adalah Adam AS. Adam
adalah juga nabi pertama. Maksudnya, Allah mengutus seorang rasul kepada umat
yang paling pertama yang Dia ciptakan di bumi, mengajari mereka dengan din
(agama) dan bagaimana menjadi hamba-hamba Allah.
Allah mengajarkan kepada Adam cara berbicara dan nama-nama segala
sesuatu. Hal ini dikisahkan dalam Al Qur'an sebagai
berikut:
Dia mengajari Adam seluruh nama-nama (benda-benda). (QS
Al-Baqarah:31)
Tentu, ini sangat penting. Di antara semua makhluk hidup, hanya manusia
yang punya kemampuan berbicara. Berbicara adalah sifat yang khas pada manusia.
Berkat kemampuan yang diberikan oleh Allah kepada Adam ini, manusia pun bisa
mengetahui benda-benda di sekitarnya dan menamai benda-benda
itu.
Generasi-generasi setelah Adam juga bisa berbicara, punya perasaan,
merasa sedih atau gembira, mengenakan pakaian, menggunakan alat-alat dan
perkakas serta punya bakat musik dan seni. Alat-alat musik seperti seruling,
lukisan dinding, dan benda-bensa lainnya yang ditemukan oleh para ilmuwan di
sisa-sisa peninggalan manusia purba membuktikan bahwa mereka pun manusia seperti
kita. Dengan kata lain, bertolak belakang dengan pernyataan beberapa orang yang
menyebutkan bahwa manusia pertama adalah makhluk liar, yaitu manusia setengah
kera.
Kalian tentu tahu bahwa kera atau pun hewan lainnya tidak bisa
berbicara, berpikir, dan berbuat seperti manusia. Allah memberikan seluruh
kemampuan ini hanya untuk manusia. (Untuk informasi lebih lanjut tentang hal ini
kalian bisa membaca buku Keajaiban Penciptaan Allah karya Harun
Yahya.)
Namun ada orang yang tidak mau menerima kenyataan bahwa manusia pertama
adalah Adam dan menyatakan pendapat mereka sendiri: Mereka keliru membayangkan
manusia pertama. Menurut khayalan mereka, manusia dan kera berasal dari makhluk
yang sama, artinya, nenek moyang mereka sama, dan kemudian berkembang sehingga
menjadi bentuk seperti sekarang ini. Jika kalian bertanya bagaimana hal yang
aneh ini terjadi, mereka hanya memberikan jawaban sederhana: “Semuanya terjadi
secara kebetulan.” Ketika kalian bertanya apakah ada bukti untuk pernyataan
tersebut, mereka tidak bisa memberikannya. Kesimpulannya, tidak ada satu pun
sisa-sisa peninggalan masa lalu yang membuktikan bahwa manusia berasal (atau
berevolusi) dari makhluk lain.
Mungkin kalian bertanya-tanya, “Apakah sisa-sisa peninggalan masa lalu
itu?” Jawaban singkatnya adalah: Bekas-bekas makhluk hidup yang telah mati.
Bekas-bekas (yang kita sebut sebagai fosil) itu tetap ada selama jutaan tahun
dan tak berubah. Akan tetapi, agar bisa terjadi, makhluk hidup tersebut haruslah
berada dalam lingkungan tanpa oksigen. Misalnya, jika seekor burung di tanah
tiba-tiba terperangkap dalam timbunan pasir jutaan tahun yang lalu, sisa-sisa
tubuh burung itu akan tetap ada saat ini. Fosil juga bisa terjadi karena zat
yang berasal dari pohon, yang disebut resin. Kadang-kadang zat seperti madu ini
memerangkap seekor serangga sehingga menjadi benda keras yang disebut amber,
yang mengawetkan serangga mati itu hingga jutaan tahun. Inilah cara kita
mendapatkan informasi tentang makhluk hidup dari zaman purba. Bekas-bekas inilah
yang disebut “fosil” itu.
Orang yang berpendapat bahwa manusia pertama terjadi dari makhluk
seperti kera tidak bisa menunjukkan fosil apa pun yang membuktikan pendapat
tersebut. Dengan kata lain, tak seorang pun pernah menemukan sebuah fosil
makhluk hidup yang aneh itu, yaitu manusia setengah kera. Tetapi orang-orang ini
membuat sendiri fosil-fosil palsu, gambar-gambar, dan foto yang bisa menutupi
kepalsuan ini, dan bahkan mencantumkannya dalam buku-buku pelajaran
sekolah.
Semua penipuan ini lambat-laun terungkap satu demi satu dan disampaikan
kepada kita sebagai kebohongan ilmiah. Karena orang-orang seperti ini tidak
punya kearifan dan keras kepala, hampir mustahil mereka mau mengakui adanya
Allah dan mengakui bahwa Dia-lah yang menciptakan segalanya. Meskipun jumlah
orang seperti itu terus berkurang, masih ada yang berusaha keras mengajarkan
pendapat yang keliru ini melalui majalah, buku, koran, dan juga di sekolah. Agar
orang percaya pada pandangan keliru ini, mereka berpegang pada pendapat mereka
dan menyebutkan bahwa mereka punya data-data ilmiah. Padahal, segala penelitian
yang dilakukan dan bukti yang diberikan oleh para ilmuwan cerdas membuktikan
bahwa kera tidaklah berevolusi menjadi manusia.
Adam, manusia pertama yang diciptakan khusus oleh Allah, dalam segala
hal sama dengan manusia saat ini. Dia tidak punya perbedaan. Inilah kenyataan
yang disampaikan oleh Allah kepada kita di dalam Al Qur'an. Masih ada hal lain
yang sangat penting yang disampaikan oleh Allah tentang Adam: Kisah tentang Adam
dan setan, musuh umat manusia.
Musuh Terbesar Manusia: Setan
Kalian mungkin telah mengenal setan, tetapi apakah kalian tahu bahwa
setan itu juga mengenal kalian dengan sangat baik dan menggunakan segala cara
untuk menggoda kalian? Apakah kalian tahu bahwa tujuan setan yang sebenarnya
(setan berpura-pura menjadi teman kalian) adalah untuk menipu kalian? Mari kita
mulai dari awal dan ingatlah mengapa setan adalah musuh kita. Untuk ini, kita
akan mulai dengan kisah tentang Adam dan setan di dalam Al
Qur'an.
Dalam Al Qur'an, hingga Hari Pembalasan nanti, setan adalah nama umum
untuk seluruh makhluk yang berusaha keras menyesatkan manusia. Iblis adalah
setan pertama yang membangkang kepada Allah ketika Dia menciptakan
Adam.
Menurut kisah Al Qur'an, Allah menciptakan Adam dan kemudian memanggil
para malaikat untuk bersujud kepadanya. Malaikat patuh pada perintah Allah,
tetapi Iblis menolak sujud kepada Adam. Dia dengan sombong berkata bahwa dia
lebih mulia daripada manusia. Karena ketidakpatuhan dan pembangkangannya, dia
diusir oleh Allah dari sisi-Nya.
Sebelum pergi dari hadapan Allah, Iblis meminta waktu kepada Allah untuk
menyesatkan manusia. Tujuan Iblis adalah menggoda manusia sehingga bisa
menjauhkan mereka dari jalan yang benar selama waktu yang diberikan untuknya.
Iblis akan melakukan segalanya untuk membuat sebagian besar manusia patuh kepada
dirinya. Allah menyatakan bahwa Dia akan memasukkan setan dan pengikutnya ke
dalam neraka. Hal ini dikisahkan dalam Al Qur'an sebagai
berikut:
Sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian (Adam). Lalu kami bentuk
tubuhmu , kemudian kami berkata kepada malaikat, ”Bersujudlah kalian kepada
Adam,” maka mereka pun bersujud, kecuali Iblis. Dia tidak termasuk yang
bersujud.
Allah berfirman, ”Apakah yang menghalangi kamu bersujud (kepada Adam)
saat aku menyuruhmu?” Iblis menjawab, ”Aku lebih baik daripadanya: Engkau
ciptakan aku dari api, sedang dia Engkau ciptakan dari
tanah.”
Allah berfirman, ”Turunlah kamu dari surga itu, karena kamu tidak
sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu
termasuk orang yang hina”.
Iblis menjawab, ”Beri tangguhlah aku sampai waktu mereka
dibangkitkan.”
Allah berfirman, ”Sesungguhnya kamu termasuk orang yang diberi
tangguh.”
Iblis menjawab, “Karena Engkau telah menghukum aku tersesat, aku
benar-benar akan menghalangi mereka dari jalan Engkau yang
lurus.”
Kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan belakang mereka, dari
kanan dan kiri mereka. Dan Engkau tidak akan melihat kebanyakan mereka bersyukur
(taat).
Allah berfirman, ”Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina
lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu,
benar-benar akan Kuisi neraka jahanam dengan kalian semuanya.” (QS
Al-A’raaf:11-18)
Setelah diusir dari sisi Allah, setan pun mulai berjuang terus hingga
Hari Pembalasan. Karena itulah, dia memperdaya manusia, berusaha menyesatkan
mereka, dan menggunakan cara-cara yang jitu untuk mendapatkan tujuannya. Seperti
telah kalian pahami sekarang, setan adalah musuh yang bisa mendekati manusia
dengan sangat licik. Karena itu, kalian harus selalu waspada untuk
menghindarinya.
Jangan pernah lupa bahwa setan itu berdusta dalam perangkapnya saat ini
untuk melawan kalian. Dia berusaha menghentikan kalian membaca buku ini dan
memikirkan apa yang sedang kalian baca. Dia mencoba menghalangi kalian dari
melakukan perbuatan baik, dan menjadikan kalian tidak patuh dan hormat kepada
orang tua kalian, dan menghalangi kalian dari bersyukur kepada Allah, sholat dan
selalu mengatakan kebenaran. Jangan pernah kalian biarkan setan menipumu dan
menghalangi kalian untuk menjadi orang yang bersifat terpuji dan mendengarkan
suara hati nurani kalian.
Kalian harus berlindung kepada Allah dan meminta pertolongan-Nya ketika
bisikan setan menimpa kalian atau ketika kalian merasa tidak mampu melakukan
amal saleh, karena semua ini merupakan tipu muslihat setan. Jangan pernah lupa
bahwa setan tidak berdaya melawan orang-orang beriman.
Nabi Nuh AS
Nuh AS, seperti halnya semua nabi lainnya, mengajak umatnya ke jalan
yang benar. Dia mengatakan kepada mereka bahwa mereka harus beriman kepada
Allah, bahwa Dia-lah Pencipta segala sesuatu, bahwa mereka tidak boleh menyembah
selain Allah, atau mereka akan dihukum. Kisah ini difirmankan di dalam Al Qur'an
sebagai berikut:
Dan sessungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata),
”Sesungguhnya Aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kalian, agar kalian
tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya Aku khawatir kalian akan ditimpa azab
pada hari yang sangat menyedihkan.” (QS Hud: 25-26)
Meski Nuh telah memperingatkan, hanya beberapa orang yang percaya kepada
Nuh. Oleh karena itu, Allah memerintahkan Nuh membangun sebuah bahtera besar.
Allah memberitahu Nuh bahwa orang-orang beriman akan diselamatkan di dalam
bahtera itu.
Dibangunnya bahtera oleh Nuh, meskipun tidak ada laut di tempat itu,
membuat orang-orang yang tidak beriman kepada Allah merasa heran. Oleh karena
itu, mereka menertawakan Nuh. Orang-orang yang tidak beriman tidak mengetahui
apa yang akan terjadi pada mereka, sedangkan Allah mengetahuinya. Ketika bahtera
tersebut telah dibangun, hujan lebat pun turun selama berhari-hari dan air pun
membanjiri tanah itu, menenggelamkan segalanya. Bencana besar ini juga telah
dibuktikan oleh para ilmuwan. Di Timur Tengah, banyak bukti terungkap yang
menunjukkan bahwa gunung-gunung yang ada sekarang pernah tertutup oleh
air.
Di televisi, kamu mungkin pernah melihat banyaknya bencana banjir di
berbagai tempat di dunia. Dalam menghadapi bencana seperti itu, orang-orang pada
umumnya naik ke atas atap untuk mencari pertolongan. Dalam keadaan ini, hanya
helikopter atau bahteralah yang bisa menyelamatkan mereka. Namun, pada masa Nabi
Nuh AS, hanya Allah yang mampu menyelamatkan mereka. Bencana ini, yang disebut
dengan “Banjir Nuh”, sebenarnya merupakan siksa yang khusus ditimpakan oleh
Allah untuk menghukum orang-orang yang tidak beriman kepada Nuh. Karena mereka
mengharapkan pertolongan dari selain Allah, tidak seorang pun dari orang-orang
ingkar itu yang naik ke atas Bahtera Nuh. Mereka memang selalu menutup
telinganya dari peringatan Allah. Mereka tidak pernah percaya kepada Allah,
mereka hanya percaya kepada makhluk Allah.
Kecuali atas kehendak Allah, tidak ada yang dapat melindungi kita.
Orang-orang yang mengingkari kenyataan ini pada saat itu, mendaki gunung-gunung
atau berlari ke dataran tinggi, namun cara itu masih tidak bisa menyelamatkan
mereka dari tenggelam.
Sangat sedikit orang yang beriman kepada Allah dan mempercayai-Nya, yang
mengantar mereka menaiki bahtera bersama Nuh dan selamat. Sesuai perintah Allah,
mereka membawa sepasang dari setiap jenis binatang bersama mereka. Hal ini
dikisahkan dalam Al Qur'an sebagai berikut:
Sebelum mereka telah mendustakan (pula) Kaum Nuh. Maka mereka
mendustakan hamba kami (Nuh) dan mengatakan,”Dia orang yang gila dan dia sudah
pernah diberi ancaman.”
Maka Nuh mengadu kepada Tuhannya, “Sesungguhnya aku adalah orang yang
dikalahkan, oleh sebab itu tolonglah (aku).”
Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang
tercurah.
Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan
paku.
Yang berlayar dengan pemeliharaan Kami sebagai pelajaran, maka adakah
orang yang mau mengambil pelajaran?
Alangkah dasyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. (QS Al-Qamar:
9-16)
All the prophets who were sent to their individual communities
communicated basically the same teaching and summoned their people to worship
Allah and to obey the prophets. In return for their services, they asked for no
wages since those people sent by Allah to communicate His Words do not do so.
They render their services only because they love Allah and fear Him. Meanwhile,
they face many difficulties: Their people slander them and subject them to cruel
treatment. Furthermore, some peoples plotted to kill the prophets sent to them,
and some even dared to do so. Yet because the prophets feared only Allah and no
one else, no hardship daunted them. They never forgot that Allah would reward
them bountifully both in this world and beyond.
Semua nabi yang diutus kepada masyarakat tertentu pada dasarnya
menyampaikan ajaran yang sama dan mengajak umat mereka untuk menyembah Allah dan
menghormati para nabi. Atas peringatan yang mereka sampaikan, para nabi itu
tidak mengharapkan upah. Semua nabi yang diutus oleh Allah untuk menyampaikan
wahyu-Nya tidak pernah melakukan hal itu. Mereka beribadah karena mereka
mencintai Allah dan takut kepada-Nya. Padahal, mereka menghadapi banyak
kesulitan: Umat mereka memfitnah mereka dan memperlakukan mereka dengan kejam.
Bahkan, ada yang berencana membunuh para nabi yang diutus pada mereka, dan
bahkan ada pula yang berani membunuh mereka. Akan tetapi, karena para nabi hanya
takut kepada Allah, dan tidak takut pada yang lain, tidak ada kekerasan yang
membuat mereka gentar. Mereka tidak pernah lupa bahwa Allah akan memberi mereka
pahala yang berlimpah di dunia maupun di akhirat.
Nabi Ibrahim AS
Dalam bagian ini, kita akan membahas berbagai sifat nabi yang Allah
firmankan untuk kita perhatikan di dalam Al Qur'an.
Ibrahim AS termasuk salah seorang nabi. Ketika dia masih muda dan tidak
seorang pun di sekitarnya yang mengingatkan dia akan adanya Allah, dia telah
memperhatikan langit. Dengan cara ini, dia mengetahui bahwa Allah telah
menciptakan segalanya. Hal ini difirmankan dalam Al Qur'an sebagai
berikut:
Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang,
(lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia
berkata, ”Saya tidak suka yang tenggelam.”
Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit, dia pun berkata, ”Inilah
Tuhanku.” Tetapi setelah itu bulan itu terbenam. Ibrahim bertkata, ”Sesungguhnya
jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang
yang sesat.”
Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit dia pun berkata, ”Inilah
Tuhanku, ini lebih besar.” Namun tatkala matahari itu telah terbenam, Ibrahim
berkata, ”Hai kaumku, sesungguhnya aku melepaskan diriku dari apa yang kalian
persekutukan!”
Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan
langit dan bumi, cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk
orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (QS Al-An’aam:
76-79)
Ibrahim AS berkata kepada umatnya agar tidak menyembah tuhan selain
Allah:
Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika ia berkata kepada
bapaknya dan kaumnya, ”Apakah yang kalian sembah?”
Mereka menjawab, ”Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa
tekun menyembahnya.”
Berkata Ibrahim, ”Apakah berhala-berhala itu mendengar (doamu) sewaktu
kalian berdoa kepadanya?”
”Atau dapatkah mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi
mudarat?”
Mereka menjawab, ”Bukan karena itu. Sebenarnya kami melihat nenek moyang
kami berbuat demikian.”
Ibrahim berkata, ”Maka apakah kalian memperhatikan apa yang selalu
disembah
(oleh) kalian dan nenek moyang kalian dahulu itu?
Sesungguhnya apa yang kalian sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan
semesta Alam,
Yaitu Tuhan yang telah menciptakan aku, maka Dia-lah yang menunjuki aku,
Dan Tuhanku, Yang memberi makan dan minum
kepadaku,
Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan
aku,
Dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku
(kembali),
Dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.”
(QS Asy-Syu’araa’: 69-82)
Musuh-musuh Ibrahim berusaha membunuhnya ketika Ibrahim menyeru mereka
untuk beriman kepada Allah. Mereka membuat api unggun yang besar dan melemparkan
Ibrahim ke dalamnya. Tetapi Allah melindungi Ibrahim dan menyelamatkannya dari
api. Ini dikisahkan dalam Al Qur'an sebagai berikut:
Maka tidak ada jawaban kaum Ibrahim, selain mengatakan, ”Bunuhlah atau
bakarlah dia.” Lalu Allah menyelamatkannya dari api. Sesungguhnya pada kejadian
itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang
beriman. (QS Al-‘Ankabuut: 24)
Kami berfirman, “Hai api, dinginlah, dan selamatkanlah Ibrahim!” (QS
Al-Anbiya: 69)
Allah-lah Yang menciptakan dan mengendalikan segalanya. Dengan kehendak
Allah, api tersebut tidak membakar Nabi Ibrahim. Ini adalah mukjizat dari Allah
dan wujud dari kekuasaan-Nya. Segalanya di bumi ini terjadi atas kehendak Allah.
Tidak ada yang bisa terjadi tanpa kehendak dan kendali Allah. Jika Dia tidak
menghendakinya, tak seorang pun yang bisa menyakiti atau membunuh orang lain.
Allah memberi tahu kita dalam Al Qur'an:
Sesuat yang bernyawa tidak akan mati, melainkan dengan izin Allah,
sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya….(QS Al-Imran: 145)
Ibrahim tidak mati, meskipun dia dilemparkan ke dalam api, karena saat
kematiannya telah ditetapkan oleh Allah, dan belum tiba. Allah menyelamatkan
Ibrahim dari api.
Dalam satu ayat, Allah mengisahkan kepada kita bahwa Ibrahim adalah
manusia dengan sifat terpuji:
Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penuh
kasih dan selalu kembali kepada Allah. (QS Hud:75)
Allah mencintai manusia yang sepenuh hati menyembah-Nya. Seperti
dijelaskan oleh ayat ini, tidak ingkar, memiliki sifat terpuji, dan tunduk
kepada perintah-perintah Allah adalah sifat-sifat yang disukai menurut pandangan
Allah.
Nabi Musa AS
Musa AS adalah seorang nabi yang sering disebutkan oleh Allah di dalam
Al Qur'an. Allah menurunkan kitab Taurat kepada Musa. Tetapi, saat ini Taurat
yang dimiliki oleh orang Yahudi dan tercantum dalam Kitab Perjanjian Lama dalam
Alkitab orang-orang Kristen telah tidak asli lagi, karena perkataan dan ucapan
manusia telah dimasukkan pula ke dalamnya. Namun, orang-orang Yahudi dan Kristen
saat ini membaca kitab-kitab yang telah tidak asli itu karena menganggapnya
berasal dari kitab asli yang diturunkan oleh Allah. Orang-orang Yahudi telah
berpaling dari jalan yang benar karena kitab yang mereka percayai tidak lagi
merupakan kitab wahyu yang dibawa oleh Nabi Musa AS.
Kita mengetahui segalanya tentang kehidupan dan sifat terpuji Musa dari
Al Qur'an. Seperti yang difirmankan dalam Al Qur'an, raja-raja Mesir kuno
dipanggil dengan nama ”Firaun”. Sebagian besar dari firaun-firaun tersebut
adalah orang-orang yang sangat sombong yang tidak beriman kepada Allah dan
menganggap diri mereka tuhan. Allah mengutus Musa kepada salah satu penguasa
terkejam ini.
Salah satu hal penting yang perlu kita bahas ketika membaca ayat tentang
kehidupan Musa ini adalah “takdir”. Kejadian berikut ini membawa dia ke istana
Firaun:
Pada saat Musa lahir, Firaun memerintahkan para tentaranya untuk
membunuh semua bayi laki-laki di daerah itu. Musa AS adalah salah satu bayi yang
berada dalam bahaya. Allah menyuruh ibunya untuk meninggalkan Musa dalam peti di
sungai dan meyakinkannya bahwa Allah akhirnya akan mengembalikan Musa kepadanya
sebagai nabi. Sang ibu menaruh Musa di dalam peti dan menghanyutkannya di
sungai. Peti tersebut terombang-ambing di sungai dan beberapa waktu kemudian
tiba di pinggir istana Firaun, tempat istri Firaun menemukannya. Dia membawa
bayi itu dan memutuskan untuk membesarkannya di istana. Oleh sebab itu, tanpa
sadar, Firaun telah memutuskan untuk mengasuh orang yang kelak akan menyampaikan
wahyu Allah kepadanya dan menentang pendapatnya yang keliru. Allah menunjuki
segala sesuatu dengan pengetahuan-Nya, dan Dia juga tahu bahwa Firaun akan
menemukan Musa AS, dan membesarkannya di dalam istananya.
Ketika Musa lahir, Allah mengetahui bahwa dia akan dihanyutkan di
sungai, bahwa Firaun akan menemukannya dan bahwa Musa akhirnya akan menjadi
nabi. Beginilah Allah menetapkan takdir Musa dan menyampaikan ini kepada ibu
beliau.
Di sini, kita harus memperhatikan kenyataan bahwa segala seluk-beluk
kehidupan kita terjadi menurut takdir Allah yang telah ditetapkan
sebelumnya.
Ketika telah beranjak dewasa menjadi seorang pemuda, Musa meninggalkan
Mesir. Beberapa waktu kemudian, Allah menjadikannya seorang nabi dan rasul, dan
juga menjadikan Harun AS sebagai pendamping beliau.
Keduanya pergi menemui Firaun dan menyampaikan pesan-pesan Allah
kepadanya. Ini tentu adalah tugas berat karena tanpa ragu-ragu mereka menyeru
seorang penguasa kejam untuk beriman kepada Allah dan menyembah-Nya. Seruan Musa
AS ini dikisahkan sebagai berikut:
Kemudian Kami utus Musa
sesudah rasul-rasul itu dengan membawa ayat-ayat kami kepada Fir’aun dan
pemuka-pemuka kaumnya, lalu mereka mengingkari ayat-ayat itu. Maka perhatikanlah
bagaimana akibat orang-orang yang membuat kerusakan.
Dan Musa berkata, ”Hai
Fir’aun, sesungguhnya aku ini adalah utusan dari Tuhan semesta alam. Wajib
atasku tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah, kecuali kebenaran. Sesungguhnya
aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, maka
lepaskanlah Bani Israel untuk pergi bersamaku.” (QS al-A'raf: 103-105)
Firaun adalah orang yang sombong dan angkuh. Karena dia menganggap telah
menguasai segalanya, dia ingkar kepada Allah. Allah telah memberinya segala
harta benda, kekuatan, dan kerajaan, tetapi karena Firaun bodoh, dia tidak mampu
memahaminya.
Firaun menentang Musa dan tidak beriman kepada Allah, dan seperti telah
diterangkan sebelumnya, dia adalah orang yang sangat kejam. Dia memperbudak Bani
Israil (yaitu, bangsa nabi Musa). Ketika telah jelas bahwa Firaun berniat untuk
membunuh Musa dan semua orang beriman, Bani Israil pun meninggalkan Mesir di
bawah kepemimpinan Musa. Musa AS dan Bani Israel terdesak di antara lautan dan
tentara Firaun yang mengejar mereka. Tetapi, bahkan dalam keadaan yang paling
sulit seperti itu, Musa tidak pernah putus asa atau kehilangan kepercayaan
kepada Allah. Melalui mukjizat untuk Musa, Allah membagi lautan itu menjadi dua
dan membuat suatu jalan di lautan agar Bani Israil bisa lewat. Ini merupakan
salah satu mukjizat besar yang dikaruniakan oleh Allah untuk Musa. Begitu Bani
Israil mencapai pinggir pantai, laut pun bertaut kembali, menenggelamkan Firaun
dan para tentaranya.
Allah menceritakan kejadian ajaib ini dalam Al Qur'an sebagai
berikut:
Keadaan mereka serupa
dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang sebelumnya.
Mereka mendustakan ayat-ayat Tuhannya, maka Kami membinasakan mereka disebabkan
oleh dosa-dosa mereka, dan kami tenggelamkan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya.
Semuanya adalah orang-orang yang zalim. (QS Al-Anfaal: 54)
Pada saat Firaun yakin ia akan mati, ia menyatakan bahwa ia beriman
kepada Allah dan mencoba menyelamatkan dirinya. Kita tidak tahu apakah
penyesalan yang ia rasakan di saat akhir ini ada gunanya, karena Allah hanya
mengampuni kita ketika penyesalan kita ikhlas dan ketika dilakukan sebelum
kematian. Allah adalah Maha Penyayang. Jika penyesalan kita baru datang pada
saat kematian, tentu saja itu tidak ikhlas, dan penyesalan seperti itu tidak
akan menyelamatkan seseorang. Mungkin inilah yang terjadi pada Firaun. Namun
hanya Allah-lah yang tahu. Seperti yang disebutkan dalam kisah ini, kita harus
hidup demi ridha Allah sepanjang hidup kita dan menghindari kekeliruan seperti
yang telah diperbuat oleh Firaun. Jika kita tidak mampu melakukannya, penyesalan
pada saat kematian mungkin tidak akan berguna.
Nabi Yunus AS
Sesulit dan sesukar apa pun keadaannya, kita harus selalu percaya kepada
Allah dan memohon pertolongan-Nya. Seperti telah kita bahas pada bagian
sebelumnya, Musa AS tidak pernah putus asa ketika terdesak di antara tentara
Firaun dan Laut Merah. Dia tetap percaya kepada Allah. Yunus AS juga menjadi
teladan untuk sifat terpuji seperti itu.
Meskipun dia telah diutus oleh Allah untuk memperingatkan umatnya, Yunus
AS meninggalkan umatnya tanpa memperingatkan mereka. Oleh karena itu, Allah
mengujinya dengan beberapa cara: pertama, dia dilemparkan ke laut dari kapal
yang dinaikinya. Kemudian seekor ikan raksasa menelannya. Akibatnya dia merasa
sangat menyesal karena perbuatannya. Dia meminta ampun kepada Allah, memohon
perlindungan dari-Nya dan berdoa kepada-Nya. Hal ini difirmankan dalam Al Qur'an
sebagai berikut:
Dan ingatlah kisah Dzun
Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami
tidak akan menyulitkannya, maka ia berseru dalam keadaaan yang sangat gelap,
”Bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Maha Suci Engkau,
sesungguhnya aku termasuk orang yang zalim.”
Maka Kami telah
memperkenankan doanya dan menyelamatkanya dari kedukaan. Dan begitulah Kami
menyelamatkan orang-orang yang beriman. (QS Al-Anbiya:
87-88)
Dalam Al Qur'an, Allah memfirmankan apa yang akan terjadi kepada Yunus
jika dia tidak percaya dan berdoa kepada Allah.
Maka seandainya dia
tidak termasuk orang yang banyak mengingat Allah, Niscaya ia akan tetap tinggal
di perut ikan itu sampai hari berbangkit. Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah
yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit. Dan kami tumbuhkan untuknya sebatang
pohon dari jenis labu. Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih.
(QS Ash-Shaffat:143-147)
Allah telah menyelamatkan Yunus dari keadaan yang sangat menyedihkan.
Hal ini adalah bukti nyata bahwa kita tidak pernah boleh putus asa dari
pertolongan Allah. Pengalaman Yunus AS merupakan pelajaran untuk semua orang
beriman: Kita tidak boleh lengah, dalam situasi sekeras apa pun yang kita
hadapi, dan kita harus selalu berdoa dan memohon pertolongan
Allah.
Nabi Yusuf AS
Di dalam Al Qur'an, kita menemukan kisah terperinci tentang pengalaman
Yusuf AS. Di sini, kita akan membahasnya secara singkat dan menyimak sifat
terpuji Yusuf.
Yusuf adalah salah seorang putera Ya’kub AS. Ketika dia masih
kanak-kanak, saudara-saudaranya melemparkannya ke dalam sumur karena iri kepada
Yusuf, dan mereka berkata kepada ayahnya bahwa seekor serigala telah memakan
Yusuf. Para musafir menemukan Yusuf dalam sumur dan menjualnya ke istana
bangsawan di Mesir. Di Mesir, Yusuf difitnah dan dimasukkan ke dalam penjara dan
tetap berada di dalamnya hingga bertahun-tahun.
Akhirnya Yusuf terbukti tidak bersalah dan dibebaskan. Karena Yusuf
sangat bijaksana dan dapat dipercaya, dan karena sangat teliti, penguasa Mesir
mempercayakan harta benda dan gudang pangan di bawah pengawasan Yusuf. Akhirnya,
Yusuf memaafkan saudara-saudaranya yang telah berbuat kejam kepadanya dan
membawa mereka semuanya beserta ayah dan ibunya untuk tinggal
bersamanya.
Yusuf AS memiliki sifat yang terpuji. Allah menguji Yusuf dengan
berbagai cara, menyelamatkannya dari sumur, padahal mustahil baginya untuk
keluar. Allah menyelamatkannya dari keadaan yang buruk dengan memasukkannya ke
dalam penjara dan kemudian menyelamatkannya dari penjara dan mengembalikan nama
baik Yusuf. Akhirnya, Allah menganugerahkan kepadanya derajat yang tinggi. Dalam
segala keadaan, Yusuf AS kembali kepada Allah dan berdoa kepada-Nya. Meskipun
dia tidak bersalah, Yusuf tetap tinggal dalam penjara hingga beberapa tahun,
namun ia tidak pernah lupa bahwa ini merupakan cobaan dari Allah. Di dalam
penjara, ia selalu menyebut-nyebut kekuasaan dan keagungan Allah kepada
orang-orang di sekitarnya. Ketaatan dan keimanannya kepada Allah dalam keadaan
sulit seperti itu menunjukkan sifatnya yang terpuji.
Nabi Ayub AS
Sabar menghadapi apa pun yang terjadi merupakan sifat terpuji yang khas
pada umat Islam. Ayub AS diuji dengan hilangnya keluarga dan kekayaannya, dan
mengalami penyakit parah yang menyebabkannya sangat menderita. Ayub hanya
memohon pertolongan dari Allah dan percaya kepada-Nya. Allah menjawab doanya dan
mengajarkan kepadanya bagaimana agar sembuh. Sifat terpuji Ayub AS dan
doa-doanya difirmankan di dalam Al Qur'an sebagai berikut:
Dan ingatlah hamba Kami
Ayub ketika menyeru Tuhannya, ”Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan
dan siksaan.”
Allah berfirman,
”Hantamkanlah kakimu. Inilah air yang sejuk untuk mandi dan
minum.”
... Sesungguhnya kami
melihat Ayub adalah hamba Kami yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba.
Sesungguhnya dia amat taat kepada Tuhannya. (QS Shaad:
41-44)
Begitu kita mengalami penyakit, kekerasan, atau kesulitan, kita sering
putus asa. Bahkan ada orang yang menjadi ingkar kepada Allah. Padahal,
sikap-sikap ini tidak diridhai oleh Allah. Seperti yang ditunjukkan oleh contoh
tentang Ayub ini, Allah mungkin akan menimpakan kesukaran kepada
hamba-hamba-Nya, tetapi penderitaan demi penderitaan akan mendewasakan
orang-orang beriman dan menguji pengabdian mereka kepada
Allah.
Dalam menghadapi penderitaan yang kita alami, kita harus berdoa kepada
Allah dan mempercayai-Nya. Kita harus sabar seperti Ayub AS dan kembali kepada
Allah. Hanya dengan begitulah, Allah akan melonggarkan kesulitan kita dan
memberi kita pahala di dunia dan di akhirat nanti.
Nabi Isa AS
Allah telah menciptakan Isa AS dengan cara yang unik. Seperti halnya
Nabi Adam, Allah telah menciptakan Isa tanpa seorang ayah. Ini difirmankan dalam
Al Qur'an sebagai berikut:
Sesungguhnya penciptaan
Isa di sisi Allah, adalah seperti penciptaan Adam, Allah menciptakan Adam dari
tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, “Jadilah” (seorang manusia), maka
jadilah dia. (QS Ali-Imran: 59)
Dalam Al Qur'an, Isa AS disebut sebagai ”Putera Maryam”. Maryam adalah
seorang perempuan terhormat yang dijadikan oleh Allah sebagai teladan bagi semua
perempuan. Dia adalah perempuan suci dan hamba yang tunduk kepada Allah. Allah
mengaruniakan Isa untuknya melalui malaikat Jibril, secara ajaib tanpa ayah, dan
memberi kabar gembira kepadanya bahwa puteranya akan menjadi seorang
nabi.
Allah menjadikan Isa seorang nabi dan menurunkan untuknya kitab Injil,
salah satu kitab wahyu dari Allah untuk umat manusia. (Setelah Isa tidak ada,
Injil juga telah diubah-ubah oleh manusia. Saat ini, kita tidak menemukan kitab
Injil yang asli, dan kitab suci orang Kristen yang disebut Alkitab sebenarnya
tidaklah bisa dipercaya seluruhnya.) Allah memerintahkan Isa untuk mengajak
manusia ke jalan yang benar dan menganugerahkan kepadanya banyak mukjizat. Dia
berbicara ketika masih berada dalam buaian dan menyampaikan kepada manusia
tentang Allah. Isa juga memberi kabar gembira tentang Muhammad (Ahmad) SAW,
utusan Allah yang akan datang setelahnya, yang difirmankan di dalam Al Qur'an
sebagai berikut:
Dan ingaatlah ketika Isa
putra Maryam berkata, ”Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah
untukmu. (Aku) membenarkan kitab yang turun sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi
kabar gembira tentang seorang rasul yang akan datang sesudahku, yang bernama
Ahmad (Muhammad). Maka ketika rasul itu datang kepada mereka dengan membawa
bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, ”Ini adalah sihir yang nyata.” (QS
Ash-Shaff: 6)
Dalam masa kehidupan Isa, sangat sedikit orang yang beriman kepada Isa
dan membantunya. Musuh-musuh Isa berusaha membunuhnya. Mereka mengira bahwa
mereka telah menangkap dan menyalib Isa. Padahal, dalam Al Qur'an Allah
berfirman kepada kita bahwa mereka tidaklah membunuh Isa:
Dan karena ucapan
mereka, ”Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, rasul
Allah.” Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang
mereka bunuh adalah orang yang dijadikan serupa dengan Isa dalam pandangan
mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang pembunuhan Isa,
benar-benar ragu tentang yang dibunuh itu.Mereka tidak yakin tentang siapa yang
dibunuh itu, kecuali dengan prasangka belaka. Mereka juga tidak yakin bahwa yang
mereka bunuh itu adalah Isa. (QS An-Nisaa: 157)
Setelah Isa AS tidak ada lagi, musuh-musuhnya mencoba untuk mengubah
wahyu yang dibawanya. Mereka mulai menggambarkan Isa dan Maryam sebagai makhluk
yang memiliki kekuatan gaib, bahkan dianggap sebagai “tuhan-tuhan”. Saat ini
pun, masih ada yang mempercayai keimanan palsu ini. Allah memberi tahu kita
dalam Al Qur'an, melalui perkataan Isa sendiri, bahwa semua ini adalah keimanan
yang keliru:
Dan (ingatlah) ketika
Allah berfirman, “Hai Isa putera Maryam, apakah kamu mengatakan kepada manusia,
‘Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?’” Isa menjawab,
“Mahasuci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku
(mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya, maka tentulah Engkau telah
mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak
mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui
perkara gaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau
perintahkan kepadaku (mengatakannya), yaitu, ‘Sembahlah Allah, Tuhanku dan
Tuhanmu, dan aku adalah saksi untuk mereka selama aku berada di antara mereka.
Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau
Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS Al-Maidah: 116-117)
Setelah Isa menghilang, jumlah orang-orang yang beriman kepadanya
meningkat pesat, tetapi saat ini mereka berada di jalan yang sesat karena mereka
mengikuti Alkitab, yang telah diubah-ubah dengan tambahan-tambahan dan
pengurangan-pengurangan. Satu-satunya jalan yang lurus saat ini adalah jalan
Nabi Muhammad SAW, yang disampaikan kepada kita, yang disebutkan dalam Al
Qur'an, karena inilah satu-satunya wahyu Allah yang belum
berubah.
Utusan Allah: Muhammad SAW
Kita banyak mengenal Rasulullah, Muhammad SAW, karena beliau adalah nabi
terakhir dan hidup baru sekitar 1.400 tahun yang lalu. Manusia mengubah-ubah dan
mengaburkan agama yang diwahyukan oleh Allah sebelum beliau. Inilah sebabnya
kitab terakhir (yang akan dipertanggungjawabkan oleh manusia di Hari Pembalasan)
diwahyukan kepada nabi kita. Kitab ini memperbaiki semua kekeliruan yang
diada-adakan dalam agama-agama sebelumnya. Allah menyampaikan bahwa Allah
memberi perintah untuk hamba-hambanya melalui Al Qur'an.
Nabi SAW juga menghadapi banyak kesulitan ketika menyampaikan wahyu
Allah kepada umatnya. Banyak tuduhan yang tak beralasan kepada beliau, meskipun
beliau tidak meminta upah dari umatnya dan tidak mempunyai niat-niat
duniawi.
Beliau terpaksa pindah dari Mekah, kota kelahiran beliau. Orang-orang
Islam pertama yang mengikutinya juga dizalimi, beberapa di antara mereka bahkan
disiksa dan mengalami perlakuan kejam. Tetapi Allah tidak membiarkan orang-orang
yang tidak beriman membahayakan agama Islam, yang tetap tidak berubah hingga
hari ini. Sesuai dengan janji Allah, setiap kata dalam Al Qur'an tetap
sepenuhnya tidak berubah.
Seruan Nabi Muhammad SAW juga ditujukan kepada seluruh manusia yang
hidup saat ini. Allah memerintahkan seluruh manusia untuk menghormati
rasul-rasulnya. Dalam banyak ayat, Allah menegaskan bahwa menghormati para rasul
berarti menghormati Allah. Oleh karena itu, menghormati nabi adalah salah satu
hal yang terpenting dan utama dalam Islam. Ketaatan hati kepada perintah Nabi
SAW tentu merupakan bentuk ketaatan kepada Allah.
Dalam Al Qur'an, Allah menyampaikan kepada kita tentang sifat-sifat
utama Nabi kita, yang menjadi teladan bagi semua manusia.
Sesungguhnya telah
datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya
penderitaanmu, (dan ia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu,
(serta) amat mengasihi dan menyayangi Kaum Mukmin.” (QS
At-Taubah:128)
Muhammad itu
sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia
adalah Rasulullah dan penutup para nabi. Dan Allah-lah Yang Maha Mengetahui
segala sesuatu. (QS Al-Ahzab: 40)
Sesungguhnya Allah
telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di
antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada
mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada
mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan nabi) itu,
mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS Ali Imran:
164)
Dengan ayat-ayat yang dimulai dengan kata, ”Katakanlah...,” Allah
memerintahkan Nabi Muhammad untuk menyampaikan wahyu Allah. Melalui ayat-ayat
ini dan semua ayat lainnya, Nabi SAW menyampaikan wahyu-wahyu Allah kepada
manusia. Istri beliau, A’isyah RA berkata, ”Akhlak beliau adalah Al Qur'an.”
Maksud A’isyah adalah, Nabi SAW benar-benar menjadikan Al Qur'an sebagai pedoman
dalam segala perbuatannya, dan kita tahu bahwa hadits beliau adalah cara kita
untuk menghormati Al Qur'an. Dalam salah satu ayat, Allah menyatakan bahwa
hamba-hamba-Nya yang takut kepada Allah dan ingin mendapatkan pengampunan
haruslah menghormati Rasulullah SAW:
Katakanlah, “Jika kamu
(benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan
mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Ali
Imran: 31)
Seperti disebutkan dalam ayat di atas, jika kita ingin agar Allah
mencintai kita, kita harus patuh kepada seruan nabi dan dengan seksama
mengamalkannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar